BMKG Minta Warga Waspadai Gempa Dini Hari di Zona Megathrust, Pernah M8,5

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono, merevisi kekuatan gempa yang terjadi di Pulau Siberut, Senin dini hari tadi menjadi magnitudo 6,7.

Sebelumnya data BMKG menyatakan gempa berkekuatan magnitudo 6,9 terjadi pada Senin, 14 Maret 2022, pukul 04:09:21 WIB.

Menurutnya, gempa yang mengguncang Pulau Siberut Kepulauan Mentawai – Kepulauan Batu dengan magnitudo 6,7 bersumber di Zona Megathrust dan berpotensi destruktif.

“Gempa M6,7 pagi ini terletak di Zona Seismic Gap (zona kekosongan gempa besar ) Kepulauan Mentawai bagian Utara. Gempa besar terakhir berkekuatan M8,5 pada tahun 1797 atau sudah 225 tahun yang lalu. Kita patut mewaspadai gempa ini, apakah sebagai gempa pembuka atau bukan sulit diprediksi,” tulis Daryono lewat media sosialnya.

Menurut Daryono dampak di Siberut Utara dan Kepulauan Batu mencapai skala intensitas V-VI MMI dan berpotensi terjadi kerusakan.

Pada skala VI getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.

Skala V, getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

Sedang di Padang, dan Gunungsitoli IV MMI. Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.

Di Padang Panjang, Bukittinggi, Pasaman Barat, Tuapejat, Pariaman III MMI. Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Di Dhamasraya, Payakumbuh, Kerinci, Tapanuli Selatan, Batusangkar, Padang Pariaman, Solok II MMI. Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Hasil pemodelan tsunami oleh BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. “Karena kekuatannya belum mampu menciptakan deformasi dasar laut untuk menimbulkan gangguan kolom air laut,” jelas Daryono.

Ia memberi saran kepada warga di sekitar pusat gempa untuk melakukan langkah antisipasi. “Sebagai langkah antisipasi, kepada masyarakat pesisir, jika terjadi gempa yang lebih kuat, lakukan upaya evakuasi mandiri dengan cara menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG. Evakuasi mandiri adalah sebuah ikhtiar yang dapat menjamin keselamatan dari tsunami.”

Menurut catatan di masa lalu M6,7 pagi ini sumbernya sama dengan gempa dahsyat M8,5 yang terjadi pada 10 Februari 1797. “Gempa tersebut yang memicu tsunami di Mentawai-Sumatra Barat-Sumatra Utara, menerjang pantai dan muara sungai hingga menggenangi pesisir Padang. Banyak rumah hanyut. Kapal besar terdorong 5,5 km ke daratan menewaskan lebih dari 300 orang,” ujar Daryono.

Leave a Reply

Your email address will not be published.