Mengenal TB Laten, Penyakit TBC Tanpa Gejala

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan sepertiga polusi dunia mengidap Laten Turberculosis (TB). Mengutip dari Infectiousdisease Specialists, TB Laten adalah suatu kondisi di mana seseorang terinfeksi TBC namun tanpa ada bukti klinis bakteri aktif. Sehingga TB Laten bisa disebut sebagai kasus TBC tanpa menunjukkan gejala-gejala pada umumnya.

Kondisi tersebut juga disebut sebagai TB non-aktif. Seseorang yang mengidap TB Laten tidak mengetahui dirinya terkena TBC. Hal itu lantaran pengidap tidak merasakan sakit atau mengalami gangguan pernapasan seperti halnya penderita TB aktif.

TB Laten dipengaruhi oleh respons imun penderita yang tahan terhadap infeksi bakteri. Sehingga mereka tidak bisa merasakan gejala-gejala tertentu. Selain itu, orang yang mengidap TB nonaktif tidak bisa menularkan bakterinya kepada orang lain.

Tuberkulosis tanpa gejala atau TB Laten disebabkan oleh bakteri tuberculosis yang masuk ke dalam tubuh. Bakteri tersebut berada dalam keadaan dorman atau tidak aktif menginfeksi. Sehingga bakteri tidak memperbanyak diri dan mengakibatkan kerusakan sel paru-paru yang sehat. Medis menyebut kondisi ini dengan istilah bakteri tidur.

Menurut WHO, orang yang berstatus TB Laten berisiko berkembang menjadi TB aktif. Hal ini bisa terjadi apabila imun seseorang yang mengidap TB Laten mengalami penurunan. Sehingga memberi ruang bagi bakteri untuk berkembang.

Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention, untuk mengetahui seseorang terinfeksi TB Laten, maka harus dilakukan beberapa tes. Tes itu meliputi tes kulit yang disebut dengan uji tuberculin dan tes darah yang disebut dengan tes pelepasan interferon-gamma atau IGRA.

Beberapa kelompok orang yang perlu melakukan pemeriksaan TB Laten yaitu orang yang berisiko terkena TBC dan setelah berkontak dengan pengidap TBC. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Karena itu, meskipun seseorang tidak merasakan gejala tuberkulosis, namun pemeriksaan terkait ada tidaknya TB Laten sesuai dengan kategori kelompok berisiko tersebut perlu untuk dilakukan. Hal itu untuk mencegah semakin parahnya penyebaran TBC. Langkah ini juga menjadi cara untuk mencegah aktifnya virus tuberkulosis.

RISMA DAMAYANTI

Leave a Reply

Your email address will not be published.